Arti Hidup?

Saya kemudian merenung. Kalau begitu apa arti dari hidup, apa itu tujuan hidup? Katanya, “Hendaklah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Lalu, bagaimana mengaplikasikannya di kehidupan nyata? Betulkah kondisi di mana manusia sudah cukup dengan kepentingan diri sendiri dan mulai ke luar untuk peduli dengan kondisi dan kebutuhan orang lain yang disebut menjadi terang?

Ah, menjadi terang di tengah-tengah masyarakat tidaklah gampang. Bagaimana bisa saya peduli dengan masyarakat yang bukan keluarga saya, yang bukan teman saya, yang bukan satu daerah, yang bukan satu suku, bahkan yang bukan satu agama dengan saya? Mungkin, kalau saya dibayar dengan rupiah, saya bisa peduli sedikit. Perut sendiri saja tidak tertolong, bagaimana mau peduli dengan orang lain? Paling juga, saya ikut-ikutan orang peduli dengan negara lain yang seagama berperang dengan negara seberang yang berbeda agama. Ya, pastilah saya dukung negara yang satu agama dengan saya tanpa peduli dia benar atau salah.

Lihatlah, kami semakin individualis, konsumtif, hedonis, serakah, dan pesimis. Kami hanya mau berteman dan peduli dengan orang yang sosial ekonominya setara dengan kami. Nilai-nilai kearifan lokal dan budaya yang baik dulu sudah luntur. Karakter leluhur kami yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kekeluargaan sudah kiamat oleh karena kami sendiri.

Dulu di Papua Pegunungan, masyarakat menolong sesamanya tanpa pamrih, masyarakat memberikan hasil panen kebun atau ternaknya terlebih dahulu kepada guru dan gembala kemudian baru boleh menikmatinya sendiri, mereka tidak akan makan kalau orang di sekitarnya tidak makan, mereka membagi makanannya kepada yang tidak makan, mereka saling mejaga, mereka melindungi masyarakat lain yang datang ke daerah mereka.

Sekarang, kami mulai mengenal judi dan mabuk. Kami palang mobil orang dijalan untuk minta uang. Kami ikut pelatihan karena berharap dapat uang. Kami menggelapkan ‘beras raskin’ kemudian kami jual untuk dapat uang. Kami malas mengajar anak-anak di kelas sehingga mereka tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung. Kami curi pakaian orang yang sedang dijemur di siang hari dan kami bobol rumah orang dimalam hari. Kami hanya memikirkan diri kami sendiri.

Kembali saya merenung. Untuk apa saya hidup?

Ada baiknya saya berdamai dulu dengan diri saya sendiri, kemudian dengan Tuhan, dengan lingkungan, dan dengan sesama saya. Saya harus berubah lalu bisa merubah orang lain dan peduli kepada mereka.

Image

Image

Image

DSC_0045Image

IMG_0481

IMG_0508

IMG_0346

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s