Inilah Makna Kemerdekaan Bagi Masyarakat Pedian

Inilah makna kemerdekaan bagi masyarakat Dusun Pedian, Kecamatan Ketungau Hulu, Senaning, perbatasan Kalimantan dengan Malaysia. “Dusun Pedian adalah tempat paling ekstrem yang pernah aku temui,” kata FR. Andre. Beliau bersama 57 orang mahasiswanya melakukan Project ASEG (Aksi Sosial dan Evangelisasi Gamaska) di Desa Sungai Seria, Desa Melingkat, Desa Malenggang dan di Dusun Pedian dengan membuat perpustakaan bersama warga dan membuat rak buku di sekolah-sekolah serta mengisinya dengan buku-buku.

Di Dusun Pedian, selama 10 hari FR. Andre minum air yang kulitasnya lebih buruk dari air Sungai Kapuas yang coklat itu. “Bahkan kalau dipikir-pikir lebih baik minum air Kapuas daripada air dusun Pedian. Benar-benar air tidak layak minum. Sudah tercemar limbah sawit,” ujar beliau. “Ketika pulang dari Dusun Pedian ini, setelah aku check up kesehatan ternyata aku cacingan, artinya di tubuhku ada cacing yang masuk. Padahal baru 10 hari aku tinggal di sana.” Ini menandakan betapa tidak sehatnya tempat ini. Ditambah lagi masalah sarana kesehatan yang juga tidak memadai. Puskesmas sangat jauh dari Pedian, karena adanya hanya di kecamatan. Itupun yang ada hanya mantri saja.

Jalan di Dusun Pedian, Senaning semuanya tanah merah. Ketika hujan, jalan menjadi becek dan berlumpur yang mengakibatkan banyak mobil amblas. Ketika kemarau pasti berdebu. Bila melalui jalan ini, rambut bisa jadi pirang. “Kami menggunakan 3 buah truk dari Balai Karangan menuju Dusun Pedian. Ketiga truk itu amblas di jalan menuju Pedian tepatnya di Malenggang. Dan pada akhirnya, kami harus menempuh perjalan selama 8 jam,” kata FR. Andre mengutarakan akses jalan menuju Dusun Pedian dari pusat kota.

Di Dusun Pedian ada sekolah SD yang namanya SD Jarak Jauh. Di SD ini hanya ada 1 orang guru yang bernama Bapak Silvester yang mengajar dari kelas 1 sampai 5 SD. Itupun dia tidak menerima gaji sepeser pun dari pemerintah. Hanya sumbangan sukarela dari para warga. Maka jangan heran kalau Pak Silvester juga mempunyai pekerjaan lain di perusahaan sawit untuk menyambung hidup anak istrinya. Tidak sepenuhnya beliau bisa mengajar di sekolah itu. Maka dari itu jangan heran kalau anak kelas 5 SD ada yang belum bisa membaca. Ironisnya lagi, daerah yang masih masuk ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, para muridnya tidak hapal lagu Indonesia Raya. Itu sih masih mending, bendera Indonesia saja mereka tidak mengerti, justru bendera Malaysia yang mereka mengerti. Apalagi mata uang rupiah, anak-anak tidak mengenalnya, karena mereka terbiasa dengan mata uang ringgit. Justru daerah Malaysia yang dapat menjadi acuan hidup mereka. Setiap ada sesuatu untuk dijual, mereka menjualnya ke Malaysia. Karena di samping jarak antara Senaning dan Malaysia dekat, barang mereka dihargai dengan harga yang lebih mahal. Kalau sudah begini apa pentingnya nasionalisme bagi mereka? “Kalau aku jadi orang Pedian, mending aku pindah menjadi warga Negara Malaysia daripada harus kelaparan di daerah ini,” ujar FR. Andre.

Hal yang sangat mengkawatirkan lagi adalah Perusahaan Sawit yang merampas tanah mereka. Sekarang tanah adat mereka hanya tersisa sekitar 20 hektar saja. Semua tanah sudah dicaplok perusahaan untuk lahan sawit. Tanah mereka hanya dihargai Rp 500.000 per hektar sebagai ganti. Terkadang perusahaan sawit berbuat curang dengan memalsukan tanda tangan mereka untuk mendapatkan hak tanah penduduk. Perusahaan sawit merampas tanah warga yang sebenarnya bisa menjadi warisan untuk anak cucu mereka dan untuk penghidupan mereka. Dan sekarang, tanah adat yang berjumlah 20 hektar itu rencananya mau dibagi rata di antara mereka. Namun, permasalah yang ada sekarang adalah ada warga yang tidak setuju. Karena bahaya yang akan dihadapi kalau tanah itu dibagi rata adalah adanya warga yang menjual tanah itu ke perusahaan sawit hanya karena tergiur dengan uang beberapa rupiah saja. Itu akan merugikan mereka.

Sekarang kalau sudah begini bagaimana kita bisa mengatakan bahwa Indonesia sudah merdeka? Itu omong kosong semuanya. Indonesia belum merdeka. Indonesia masih dijajah dalam konteks yang berbeda. Kita masih memerlukan orang-orang yang mau terlibat dalam membantu saudara kita yang masih dalam masa penjajahan ini.

Negara ini memang tidak sempurna. Banyak keretakan hubungan, kerusakan karakter, kebusukan sistem, ketidakwarasan manusia, keburukan situasi, keganasan alam. Namun, Tuhan memanggil kita untuk menemukan kebaikan di tengah keadaan itu. Memungut hal-hal yang positif. Mensyukurinya. Memanfaatkannya. Mengembangkannya. Lalu menjadikannya sarana untuk memberkati sesama dan merubah Indonesia.

(Terima kasih kepada FR. Andre dan Devi Damayanti sebagai sumber dari tulisan ini)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s