Demplot Jagung sebagai Upaya Peningkatan Ekonomi Keluarga di Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Touna, Sulawesi Tengah

Masalah-masalah pada  masyarakat Touna, Sulawesi Tengah yang mengakibatkan kemiskinan diuraikan dalam Social Livelihood Framework sebagai berikut:

Image

Oleh karena itu, ADP (Area Development Programe) Touna memilih sebuah project yang bertujuan meningkatkan ekonomi keluarga yang diharapkan dapat berkontribusi dalam peningkatan kualitas hidup anak dan keluarga. Project yang dilakukan dijelaskan dalam logframe di bawah ini:

Image

Image

Demplot jagung dengan metode Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dipilih sebagai kegiatan pelatihan penanaman dan pemanenan tanaman serta pelatihan menghindari dan mengobati hama yang bertujuan supaya petani memiliki keterampilan bertani yang memadai dan keterampilan yang memadai untuk mengobati penyakit dalam pertanian. Demplot jagung adalah lahan percontohan yang digunakan untuk melakukan pelatihan penanaman jagung mulai dari melakukan pengolahan tanah, pengolahan pupuk, pemupukan awal, penanaman benih hingga pemanenan dan pemasaran bersama. Demplot jagung ini dilaksanakan di 2 kecamatan dampingan, yaitu Ampana Tete dan Ulubongka. Disetiap kecamatan akan dipilih 30 orang perwakilan (6 orang wakil dari setiap desa) sebagai peserta pelatihan. Pelatihan tersebut dilaksanakan setiap seminggu sekali dengan agenda setiap minggunya sebagai berikut: (1) Penandatanganan kontrak belajar, pembagian peran untuk pembuatan pupuk,  pembuatan jadwal bersama, dan penyuluhan tentang pestisida dalam jaringan tanaman; (2) Pembuatan pupuk bokasi (pupuk organik); (3) Pengolahan lahan, pembuatan soal pre test untuk tim fasilitator; (4) Pemupukan dasar/hambur pupuk,  pre test tentang jarak tanam, pemupukan dan pestisida nabati; (5) Evaluasi peserta, pre test, pengamatan tanaman terkait agro ekosistem, dan analisis usaha tani; (6) Pengamatan tanaman (agro ekosistem), pemupukan kedua (pemupukan selektif)-pupuk yang didapat dari pemerintah, dan penyiangan tanaman (untuk memperkuat penetrasi), (7)  Pengamatan tanaman (agro ekosistem), penyuluhan tentang manfaat dan cara penggunaan BWD (Bagan Warna Daun) dan jaringan tanaman; (8) Pengamatan tanaman (agro ekosistem), kegiatan pengendalian gulma, rantai, dan jaring-jaring makanan; (9) Pengamatan tanaman (agro ekosistem), penyuluhan dan pengamatan terkait energi dalam pertanian dan fase pembuahan; (10) Pengamatan tanaman (agro ekosistem), pengenalan hama penyakit dan musuh alami, dan pengoleksian hama (peserta membawa botol); (11) Pengamatan tanaman (agro ekosistem), pemangkasan daun bawah, dan penentuan tepat saat panen; (12) Pengamatan tanaman (agro ekosistem), administrasi kelompok tani, dan identifikasi keadaan buah jagung; (13) Pengamatan tanaman (agro ekosistem), penanganan pasca panen, dan pemangkasan daun atas; (14) Pengamatan tanaman (agro ekosistem), pengupasan menunggu interval, dan agrobisnis tanaman jagung (pemasaran); (15) Pengubinan dan pengolahan hama pasca panen.

Dalam melaksanakan kegiatan pelatihan melalui demplot jagung ini, Wahan Visi bermitra dengan PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) dari Dinas Ketahanan Pangan, Mentri Tani dari Dinas Pertanian, dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Wahana Visi memiliki peran sebagai fasilitator saja, sementara urusan pemberian penyuluhan diberikan tanggung jawab kepada PPL. Wahana Visi dan mitra kerjanya berharap dengan adanya demplot jagung ini para peserta memiliki keterampilan bertani dan mengobati penyakit dalam pertanian yang memadai serta mengaplikasikannya di lahan pertaniannya sendiri. Petani juga mampu mengajari dan mempengaruhi kelompok tani di desanya untuk mencontoh apa yang dia peroleh selama pelatihan di demplot jagung.

Image

Image

Refleksi yang didapatkan dari kegiatan demplot ini adalah rendahnya tingkat partisipasi peserta yang mengikuti kegiatan (peserta yang datang hanya 10 dari 30 yang diikutsertakan) dan belum ada peserta yang mengikuti kegiatan demplot ini mulai mengaplikasikannya di lahan pertanian mereka masing-masing. “Tidak adanya rasa memiliki yang menyebabkan para petani kurang aktif dalam mengikuti pelatihan di demplot ini,” kata Pak Yunus selaku ketua dari anggota peserta. Pengamatan pak Ihram selaku Fasilitator Pengembangan menyatakan bahwa memang semakin ke sini semakin sedikit peserta yang datang mengikuti kegiatan di demplot ini. “Jauhnya jarak dari rumah ke demplot jagung penyebabnya,” kata Pak Ihram. Setelah ditinjau ulang, ternyata penyebab utamanya adalah tidak adanya “uang duduk” yang diterima peserta. Masyarakat di sini sudah terbiasa mendapatkan uang duduk dari pemerintah setempat bila mereka mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Sementara, WVI memiliki peraturan tidak boleh memberikan materi berupa barang maupun uang kepada masyarakat. Penyebab lain yang menyebabkan peserta tidak mau datang ke demplot jagung adalah karena tidak adanya perkembangan atau kemajuan yang baik dari pertumbuhan jagung yang mereka tanam. Di Kabupaten Touna ini, petani sangat bergantung dengan air hujan dalam hal penanaman jagung. Sementara itu, hujan turun tidak menentu di daerah ini. Jika 3 (tiga) hari saja hujan tidak turun setelah melakukan penanaman benih maka dapat dipastikan jagung tidak akan tumbuh. Di Kabupaten Touna inipun sangat sulit untuk melakukan irigasi atau pengairan ke lahan-lahan pertanian. Oleh sebab itu, banyak dari tanaman jagung yang sudah ditanam di demplot jagung ini gagal tumbuh dan ada juga yang tumbuh tetapi batangnya pendek-pendek.

Dari seluruh peserta yang diikutsertakan, hanya kelompok tani Lembah Jongi dari Desa Uebone yang aktif dan selalu mengikuti pertemuan setiap Rabu di Demplot Jagung. Kelompok Tani Lembah Jongi sangat kompak dan sudah memiliki struktur organisasi serta pembagaian tugas yang baik sebelum WVI datang ke ADP Touna. Kelompok Tani yang diketuai oleh Pak Yunus menggagas ide untuk membuat subdemplot jagung di daerah lahan pertanian mereka sendiri di Lembah Jonggi. Kelompok Tani Lembah Jongi memiliki anggota sebanyak 26 orang. Mereka juga kompak dengan memiliki tradisi mapalus. Tradisi mapalus adalah gotong royong dalam mengolah lahan setiap anggota kelompok secara bergantian. Jika anggota tadi dibantu dalam pengolahan lahan, dia juga bertanggung jawab membantu mengolah lahan anggota kelompok yang lain. Pada saat pengolahan lahan, anggota yang lahannya sedang diolah oleh semua anggota kelompok berkewajiban untuk menyediakan snack, makan siang, minum, dan rokok anggota kelompok yang hadir dalam penggarapan lahannya. Gotong royong ini dilakukan pada saat tanam, pembersihan lahan, dan panen.

Image

Kelompok tani Lembah Jongi menyepakati subdemplot jagung yang diadakan di lahan mereka merupakan kelas belajar bersama yang diadakan setiap hari kamis. Mereka berkumpul mulai pukul 08.00 untuk melakukan kegiatan bersama di lahan subdemplot tersebut mulai dari pembukaan lahan, pembuatan pupuk organik, penanaman benih, perawatan tanaman dari hama dan penyakit, pembersihan gulma, pengamatan agro-ekosistem, pemotongan daun bawah, pemotongan daun atas, panen, dan pemasaran bersama. Setelah kegiatan di lapangan mereka berkumpul untuk menerima materi penyuluhan dari PPL dan berdiskusi tentang progres dari lahan subdemplot tersebut. Mereka dalam prakteknya di lapangan membuat peraturan terkait kehadiran, mengevaluasi ketidakhadiran, mencari tau penyebab ketidakhadiran tersebut, mencarikan solusi sehingga anggota yang tidak bisa/berhalangan hadir dapat mengikuti kegiatan di pertemuan selanjutnya, dan memberikan sanksi bila anggota kelompok tidak hadir dalam 3 (tiga) kali pertemuan.

Kelompok Tani Lembah Jongi ini berharap ada kemajuan setelah mengikuti subdemplot jagung sebagai kelas belajar bersama ini. Mereka berharap dapat belajar membuat dan menggunakan pupuk organik dengan baik, hasil produksi mereka meningkat, dapat mengupayakan pemasaran bersama, dan dapat mengupayakan pengolahan uang kelompok untuk simpan pinjam sehingga ketika ada anggota kelompok yang membutuhkan dana dengan cepat dapat meminjam ke kelompok tani dan tidak perlu meminjam kepada tengkulak lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s