Golden Period – Asupan Gizi Janin

Apa yang dimakan bayi sejak usia dini merupakan fondasi penting bagi kesehatan dan kesejahteraannya di masa depan. Kualitas sumber daya manusia (SDM) hanya bakal optimal, jika gizi dan kesehatan pada beberapa tahun pertama kehidupannya di masa balita baik dan seimbang. SDM berkualitas ini merupakan suatu investasi dalam mendukung keberhasilan pembangunan nasional di suatu negeri. Dengan kata lain, perhatian terhadap asupan gizi bayi dimulai sejak dalam kandungan sampai usia lima tahun sangat penting diutamakan.

Usia 0-5 tahun merupakan golden period di mana pertumbuhan dan perkembangan tubuh dan otak sangat cepat dengan dukungan asupan gizi yang adekuat pula. Informasi yang terbatas dan pengetahuan ibu yang minim akan gizi menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan bayi tidak optimal dan masih banyak ditemukan masalah-masalah gizi yang terjadi pada anak-anak di Indonesia yang mengakibatkan SDM negeri ini kalah bersaing. Oleh karena itu, saya sebagai ahli gizi ingin membagikan pengetahuan seputar zat-zat gizi yang diperlukan bayi sejak masih janin sampai usia lima tahun, tetapi untuk edisi pertama ini saya hanya membahas kebutuhan asupan zat gizi pada janin selama di dalam kandungan.

Pertumbuhan janin, uterus, dan lain-lain tergantung pada makanan yang dikonsumsi. Sejak masa konsepsi, janin tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang dimakan ibunya. Selama hamil, ibu memerlukan semua zat gizi. Oleh karena itu, kebutuhan energi, protein, vitamin, mineral, dan lain lain bertambah. Komponen sel tubuh ibu dan janin sebagian besar terdiri dari protein. Perubahan dalam tubuh ibu, seperti plasenta juga memerlukan protein. Jenis protein yang dikonsumsi sebaiknya yang mempunyai nilai biologi tinggi (seperlimanya dari protein hewani), seperti daging, ikan, telur disamping tahu, tempe, kacang-kacangan, biji-bijian, susu, yofurt, dan lain-lain.

Ibu hamil perlu memperbaiki komposisi asam lemaknya. Perbandingan kandungan omega 6 (linoleat) dan omega 3 (asam linoleat, EPA, DHA) sebaiknya lebih banyak dari pada asam lemak jenuh (lemak hewani, kelapa tua, santan, dll). Janin memerlukan asam linoleat (banyak terdapat pada minyak kedelai, minyak jagung, minyak biji matahari, minyak biji kapas, dan minyak safflower) dan asam lemak esensial yang penting untuk perkembangan pusat susunan syaraf, termasuk sel otak. Omega 3 banyak terdapat dalam minyak ikan (ikan laut seperti lemuru, tuna, salmon), minyak kanola, minyak kedelai, minyak zaitun, dan minyak jagung.

Vitamin penting untuk pembelahan dan pembentukan sel baru. Misalnya vitamin A untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan sel dan jaringan janin. Tidak perlu penambahan suplemen selama konsumsi sayur dan buah cukup. Selama hamil, kebutuhan asam folat dan vitamin B lain seperti thiamin, riboflavin, dan niacin meningkat untuk membantu pembentukan energi. Selain itu, vitamin B6 diperlukan untuk membantu protein membentuk sel-sel baru. Asam folat terutama diperlukan pada 3 bulan pertama kehamilan untuk mengurangi risiko pertumbuhan kritis yang berlangsung pada 3 bulan pertama kehamilan. Kebutuhan vitamin B12 juga meningkat. Vitamin ini terdapat dalam daging, susu, telur, dan makanan hewani lain. Kebutuhan vitamin C meningkat sedikit untuk membantu penyerapan zat besi yang berasal dari bahan makanan nabati. Kebutuhan vitamin D meningkat untuk penyerapan kalsium.

Mineral berperan pada pertumbuhan tulang dan gigi. Bersama dengan protein dan vitamin, mineral membentuk sel darah dan jaringan tubuh yang lain. Mineral yang sangat dibutuhkan selama kehamilan adalah kalsium, zat besi, dan seng. Kalsium diperlukan terutama pada trimester 3 kehamilan. Tambahan kalsium  sekitar 150 mg/hari dibutuhkan untuk pertumbuhan janin serta untuk persediaan ibu hamil sendiri agar pembentukan tulang janin tidak mengambil dari persediaan kalsium ibu. Cukup konsumsi kalsium berarti mengurangi timbulnya toksemia dan tekanan darah tinggi. Sumber kalsium diperoleh dari susu dan hasil olahannya, ikan/hasil laut, sayuran berwarna hijau, dan kacang-kacangan. Kebutuhan zat besi selama kehamilan sangat tinggi, khususnya trimester 2 dan 3. Kebutuhan zat besi dapat dipenuhi dengan tambahan pil besi dengan dosis 100 mg/hari. Pada trimester 1 belum ada kebutuhan yang mendesak sehingga kebutuhannya sama dengan wanita dewasa yang tidak hamil.

Zat besi penting untuk pembentukan hemoglobin, suatu komponen darah. Untuk meningkatkan massa hemoglobin diperlukan zat besi sekitar 500 mg (termasuk simpanan) karena selama kehamilan volume darah meningkat sampai 50%. Pada saat melahirkan, ada zat besi yang hilang sebanyak 250 mg, belum termasuk untuk janin dan plasenta. Kekurangan harus dipenuhi selama trimester 2 dan 3. Hemoglobin membawa oksigen ke seluruh tubuh, termasuk ke plasenta. Sumber zat besi adalah makanan yang berasal dari hewan yaitu daging, ayam dan telur, serta kacang-kacangan, biji-bijian, dan sayuran hijau. Agar absorbsi zat besi lebih baik, perlu adanya vitamin C yang banyak terdapat pada jeruk, brokoli, dan tomat. Kekurangan zat besi yang umum diderita ibu hamil dapat meningkatkan risiko kelahiran bayi premature atau bayi dengan berat badan rendah dan ibunya menderita anemia.

Seng merupakan mineral mikro esensial artinya tidak diproduksi oleh tubuh dan hanya dapat diperoleh dari makanan. Seng diperlukan untuk fungsi sistem reproduksi, pertumbuhan janin, system pusat syaraf, dan fungsi kekebalan tubuh. Selama kehamilan, kebutuhan seng meningkat sampai dua kali lipat dibandingkan saat tidak hamil. Kebutuhan seng selama trimester 1,2, dan 3 adalah 1,7 mg/hari, 4,2 mg/hari, dan 9,8 mg/hari. Seng terdapat dalam bahan makanan dari hewan, misalnya daging, makanan dari laut, dan ungags, serta padi-padian. Kebutuhan seng akan tercukupi jika konsumsi protein cukup.

Semua zat besi diperlukan selama kehamilan, namun asam folat merupakan salah satu vitamin B yang perlu mendapat perhatian. Asam folat diperlukan untuk membentuk sel baru. Setelah konsepsi, asam folat membantu mengembangkan sel syaraf dan otak janin. Konsumsi asam folat yang cukup pada minggu-minggu sebelum konsepsi dan 3 bulan pertama kehamilan (periode kritis) dapat mengurangi risiko kelainan susunan syaraf pada bayi. Asam folat tidak bisa disimpan dalam tubuh, harus diberikan setiap hari, kebutuhan 0,4 mg/hari. Sumber asam folat adalah hati, sayuran berwarna hijau (asal dari: “folium atau leaf), jeruk, kembang kol, kacang kedelai/kacang-kacangan, roti gandum, serelia, dan ragi.

Kensimpulan dari kebutuhan zat gizi yang bertambah selama kehamilan yang harus dikonsumsi oleh ibu hamil dapat dilihat dari tabel 1.1 yang diambil dari Tabel AKG 2004 bagi orang Indonesia.

Tabel 1.1 Kebutuhan Tambahan Asupan Zat Gizi Ibu Hamil

Sumber: Hidup Sehat Gizi Seimbang dalam Siklus Kehidupan Manusia (2006) oleh Prof. Dr. dr. Darwin Karyadi dkk. Penerbit PT Primamedia Pustaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s