Setiap Orang Adalah Guru, Setiap Tempat Adalah Sekolah, Setiap Peristiwa Adalah Buku

Mari, Saya perkenalkan dengan sosok Kristian Edi Suseno. Beliau adalah Area Development Program Manager (ADPM) World Vision Indonesia Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah. Beliau berusia 39 tahun, sudah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak. Bagi saya, Pak Edi merupakan guru yang baik.

Edi kecil adalah anak seorang petani sederhana. Ayahnya berasal dari Jawa dan bertransmigrasi ke Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Sewaktu kecil, dia diberikan ayahnya beberapa ekor sapi. Sapi-sapi tersebut dia pelihara dan dia gembalakan. Pernah suatu ketika bermain sampai kesorean, dia lupa memberi makan sapinya. Dia rela tidak makan malam karena sapi-sapinya tidak dia beri makan. “Sapi-sapi itu sudah seperti sahabat saya, saya rela tidak makan supaya dapat merasakan apa yang sapi-sapi itu rasakan,” kata beliau.

Sering, ketika menggembalakan sapi-sapinya, Edi melihat pesawat. “Saya harus bisa suatu saat naik pesawat,” cerita beliau karena sering melihat pesawat yang terbang di atas lahan tempat Edi kecil menggembalakan sapi-sapinya. Berawal dari keinginan untuk naik pesawat terbang, Edi kecil memiliki cita-cita untuk memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari ayahnya supaya punya pekerjaan yang lebih baik dari ayahnya dan punya uang untuk naik pesawat. Tekad untuk mewujudkan impian tersebut tercermin dari usahanya untuk menggapai pendidikan sampai sarjana. Dia mengumpulkan 29 orang temannya yang memiliki lahan tidur seluas masing-masing 1 ha untuk bergotong royong menggarap lahan tersebut. Mereka menanam kacang di lahan seluas total 30 ha dan setiap orang harus menjaga lahan mereka masing masing dari hama babi di malam hari. Usaha tersebut dia lakukan untuk mengumpulkan uang. Ayahnya tidak punya uang untuk biaya kuliahnya. Dan setelah 2 tahun mengumpulkan uang dari hasil kacang yang dijual, Edi yang sudah tamat SMA memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Palu, ibu kota Sulawesi Tengah. “Ketika itu, hanya saya seorang yang mampu melanjutkan sekolah sampai jenjang kuliah dari desa saya,” kata Pak Edi.

Di Palu, Edi tidak punya keluarga atau kerabat. Ketika sampai di Palu, dia titip barang-barangnya di travel dan pergi mencari makan di tempat yang elit. “Saya seperti sudah ditunjukkan dan diarahkan untuk pergi ke tempat makan yang elit tersebut,” ujar Edi. Edi hanya memesan minum dan duduk. Di sanalah dia berkenalan dengan bapak yang sedang mencari anak tinggal (sebutan untuk anak kostan di Palu). Bapak tersebut mempunyai rumah yang cukup luas dan kamar-kamar yang kosong. Anak-anak beliau sudah kuliah dan berkeluarga di Jawa sehingga kamar-kamar tersebut ingin dia sewakan. Edi adalah anak tinggal pertama yang ngekost di rumah bapak tersebut. Edi membantu bapak tersebut mencari anak-anak kuliahan lainnya untuk ngekost di rumah bapak tersebut. Pada akhirnya, Edi tinggal bersama bapak tersebut selama 2 tahun tanpa bayar apapun. Pada tahun kedua, bapak tersebut pindah ke Jakarta sehingga Edi tidak bisa lagi tinggal bersama beliau. Edi pun mencari kostan baru dan Edi tidak pernah lagi bertemu dengan bapak induk semangnya tersebut sampai sekarang. “Induk semang yang baik hati yang dipertemukan pertama kali oleh arahan Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Untuk menyambung hidup di Palu selama kuliah, Edi bekerja serabutan. Mulai dari bantu orang ngecat ruko, membuat kartu ucapan selamat ketika lebaran dan tahun baru kemudian dijual, dan kerja serabutan lainnya. Prinsip dia sama dengan prinsip yang dipegang teguh oleh Gajah Mada. “Saya tidak mau senang-senang terlebih dahulu sampai saya berhasil lulus kuliah dan jadi orang,” kata Edi. Poster Gajah Mada dan tulisan “Saya tidak akan makan buah palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara” yang dia gambar dan tulis sendiri dia tempel di dinding kamar kostannya. Poster dan prinsip hidup tersebutlah yang terus menyemangati Edi.

Edi tidak pernah memotong rambutnya mulai dari lulus SMA sampai dia lulus kuliah. Itu dia lakukan karena sering pulang malam berjalan kaki sendirian setelah berjualan kartu-kartu ucapan selamat dan bekerja serabutan selama berkuliah di Palu. Tentu saja dengan penampilan gondrong dan badan besar tegap, Edi kelihatan seram. “Di palu, ketika itu, kalau pulang malam-malam dan berjalan sendirian pula, kita sering diganggu dan dipalakin preman atau orang yang sedang mabuk,” kata Edi. “Kalau penampilan saya seram begini orang tidak berani ganggu saya.” Pernah suatu ketika dia jalan pulang malam-malam, ada preman-preman yang sedang nongkrong minum dan kelihatan sudah mabuk menghampiri Edi. Edi tentu saja takut, tapi dia berusaha untuk tetap tenang. “Ada pisau di kantung untuk jaga-jaga dan kalaupun lari saya masih lebih kuat daripada mereka,” ujar Edi sambil meneruskan cerita. Ternyata, preman-preman tersebut hanya bertanya dari mana saya dan mau ngapain? Setelah itu, mereka menawarkan Edi alkohol satu seloki untuk menghangati tubuh agar kuat berjalan karena udara dingin malam itu.

Walaupun Edi kelihatan gondrong dan penampilannya seram, dia selalu duduk paling depan di kelas. Dia selalu menomorsatukan kuliahnya. Dia lulus kuliah tepat waktu. Dan, dengan semangat serta prinsipnya tadi, Edi pun menjadi lulusan Sarjana Ekonomi dengan indeks prestasi yang cukup memuaskan. Singkatnya, Edi diterima bekerja di World Vision Indonesia sebagai Fasilitator Pengembangan di Luwuk, Banggai. Kemudian, dia diangkat sebagai Community Development Coordinator beberapa tahun kemudian. Setelah Area Development Program (ADP) Banggai ditutup, Edi diangkat menjadi Area Development Program Manager di ADP Touna yang baru buka. Dan, impiannya untuk dapat naik pesawat terbang tercapai. Bahkan, sampai sekarang sudah tidak terhitung lagi banyaknya beliau naik pesawat.

Saya belajar banyak dari sosok Pak Edi. Bagi saya, Pak Edi adalah guru, pemimpin, dan teman yang baik. Beliau adalah guru yang mengajarkan tentang arti hidup. Pemimpin yang tenang, optimis, mau memberikan kepercayaan besar dan mampu membentuk orang-orang yang dia pimpin menjadi lebih baik lagi. Beliau juga adalah teman yang mau berbagai pengalaman.

Bahkan, beliau juga sosok ayah yang baik bagi anak dan keluarganya. Dia berusaha menjadi sahabat bagi anak-anaknya. Teman-teman anaknya Eka, anak pertama Pak Edi yang baru kelas 1 SD, selalu dia undang datang ke rumah setiap Sabtu atau Minggu. Pak Edi ikut bermain apa yang Eka dan teman-temannya senangi. Selain dapat mengenal anaknya dan teman-teman Eka lebih baik, Pak Edi dapat mengajarkan hal-hal yang positif dengan ikut langsung berinteraksi dengan mereka. “Daripada hanya memerintah dan memberitahu mana yang baik mana yang tidak baik, mana yang boleh dilakukan mana yang tidak boleh dilakukan, Saya ingin Eka sendiri yang mencari tau hal-hal tersebut dari interaksi-interaksi yang dibangun,” ujar Pak Edi. Diapun ingin kelak anaknya juga dapat lebih tinggi pendidikannya daripada dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s